Menerobos Lampu Merah

Menerobos lampu merah, traffic light, lampu lalu lintas

Karena terburu-buru, Jono mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sampai-sampai ketika mendekati traffic light yang sedang menyala merah, Jono tak mampu mengendalikan laju mobilnya. Terpaksa ia menerobos lampu merah tersebut. Untunglah ia bisa berkelit saat hampir bertabrakan dengan mobil lain yang datang dari sisi kirinya.




Seorang polisi lalu lintas yang kebetulan sedang bertugas di sekitar traffic light tersebut, segera mengejar mobil Jono. Akhirnya polisi tersebut berhasil mengejar dan menghentikan mobil Jono.

"Selamat siang, Pak! Tolong perlihatkan SIM Bapak!" sapa polisi itu dengan tenang sambil menunjukkan senyum profesionalnya.

"Saya tidak punya SIM, Pak. SIM saya sudah lama dicabut gara-gara sering ditilang," sahut Jono dengan nada tenang dan raut muka tak bersalah. Jawaban yang dingin ini benar-benar membuat polisi tersebut kaget dan terheran-heran. Sang polisi berusaha menahan diri dan melanjutkan pertanyaan.

"Ok, kalau begitu tunjukkan STNK-nya!"

"STNK? Mana mungkin, Pak. Ini lho mobil curian. Baru dua jam yang lalu saya mencuri mobil ini."

"Mobil curian?"

"Betul, Pak. Oh ya, kalau tidak salah lihat, tadi ada STNK di kotak P3K di jok belakang. Mungkin STNK tersebut banyak bercak darahnya sekarang karena golok yang saya simpan di kotak P3K tersebut masih berlumuran darah segar."

"Golok? Berlumuran darah?"

"Iya. Tadi waktu saya nyuri mobil ini sempat ketahuan pemiliknya, seorang eksekutif muda. Ya sudah, saya habisi sekalian. Tuh, mayatnya saya simpan di bagasi belakang."

"Mayat?" Agak ciut juga nyali polisi tersebut mendengar penuturan Jono yang dingin dan polos tanpa tedeng aling-aling. "Sebentar, ya," kata polisi tersebut seraya mundur satu langkah dan mengangkat telepon genggamnya. Terdengar dengan jelas oleh Jono bahwa polisi tersebut sedang menghubungi komandannya.

Tak lama kemudian beberapa mobil polisi datang dan mengepungnya. Dari kejauhan, sang komandan menyeru kepada Jono dengan menggunakan megaphone.

"Angkat tangan dan keluar dari mobil!" seru sang komandan.

Dengan tenang sambil mengangkat tangan, Jono pun keluar dari mobil. Melihat ketenangan, penampilan, gelagat, ekspresi, dan sikap Jono yang mau bekerja sama, sang komandan menjadi ragu akan keterangan anak buahnya yang menilang Jono. Sang komandan kemudian bergerak mendekati Jono sambil menyarungkan kembali pistolnya.

"Maaf, Pak. Ada apa ini?" sapa Jono pura-pura tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.

"Coba perlihatkan SIM Bapak!" jawab sang komandan dengan tegas seraya mengurungkan niatnya untuk memborgol Jono.

"Oh cuma SIM. Ini SIM saya, Pak. Masih berlaku kok, baru setahun yang lalu saya perpanjang."

"Ini mobil siapa?" tanya sang komandan lagi.

"Mobil saya, Pak. Ini STNK-nya. Kalau dibutuhkan, kebetulan BPKB juga saya bawa."

"Bisa saya lihat kotak P3K dan golok yang Bapak simpan di kotak tersebut!"

"Oh, silakan Pak. Tapi golok yang Bapak maksud tidak ada di kotak tersebut," jawab Jono sambil masuk ke mobil mengambil kotak P3K. Kotak tersebut kemudian dibuka di depan sang komandan. Ternyata memang tidak ada golok di sana, apalagi ceceran darah. Sang komandan semakin bingung dibuatnya.

"Bisa dibuka bagasinya, Pak! Saya mendapat laporan bahwa Bapak membawa mayat di bagasi Bapak."

"Mayat?" jawab Jono pura-pura heran sambil bergerak ke bagasi mobil. Bagasi tersebut kemudian dibuka dan disaksikan sendiri oleh sang komandan. Ternyata bagasi tersebut kosong melompong, tidak ada apa-apa.

"Maaf kalau begitu, Pak! Saya semakin bingung. Petugas lalu lintas yang menghentikan mobil Bapak melaporkan bahwa Bapak tidak mempunyai SIM, mencuri mobil ini, menyimpan golok di kotak P3K, dan membawa mayat di bagasi." kata sang komandan dengan tegas untuk menutupi rasa malunya.

"Oh, begitu ceritanya. Saya yakin pembohong besar itu juga mengatakan kepada Bapak bahwa saya ngebut dan menerobos lampu merah."

Simak juga, Kisah 4 Orang dalam Gerbong Kereta Api.

Comments

Popular posts from this blog

Membuntuti Istri yang Selingkuh